Monday, February 2, 2015

MEMBANGUN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN PROBING PROMPTING

Pembelajaran di sekolah merupakan sebuah wadah untuk menjadikan siswa menjadi lebih baik dari sebelumnya. Akan tetapi, semua orang memiliki metode pembelajaran yang berbeda-beda. Dalam pembelajaran seluruh siswa yang akan menerima pembelajaran harus bisa memahami penjelasan yang diberikan oleh guru. Sehingga, tugas guru adalah mencari metode pembelajaran yang dapat memberikan pemahaman siswa. Dengan menggunakan metode probing prompting, guru dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap pembelajaran yang dipelajari.
Metode probing prompting dapat membantu siswa dalam belajar dengan cara guru menuntun atau mengarahkan siswa kepada pengetahuan yang baru dengan cara memberikan pertanyaan – pertanyaan atau masalah yang dapat meningkatkan dan menggali pengetahuan serta menjadikan siswa berpikir kritis terhadap pengatuahan yang akan diterimanya. Metode ini pembelajarankan siswa untuk lebih mandiri dalam mencari pengetahuan yang belum diketahui sebelumnya. Metode probing prompting adalah salah satu cara untuk meningkatkan berpikir kritis siswa dengan menggunakan pertanyaan – pertanyaan yang dapat mengarahkan siswa untuk bisa menggali pengetahuan yang belum mereka ketahui. Maka tugas seorang guru dalam metode ini adalah memberikan pertanyaan yang dapat merangsang siswa agar menjadi aktif bertanya dan berpikir kritis dalam menjawab. Untuk metode probing prompting tidak hanya memerlukan pemikiran, melaikan aktifitas fisik tetap diikut sertakan, karena dalam metode belajar tersebut siswa dapat melakukan diskusi – diskusi kecil dengan temannya agar dapat menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru. Dalam diskusi tersebut, siswa mendiskusikan jawaban atas petanyaan yang diberikan dan melatih siswa untuk berpikir dan bersosialisai.Untuk mengetahui pemahaman siswa atas pelajaran yang diajarkan, guru akan memberikan pertanyaan yang bersifat menggali pengetahuan siswa bahkan ketika siswa menjawab pertanyaannya tidak tepat dalam metode ini guru harus memberikan pertanyaan kembali akan tetapi pertanyaan dalam bentuk kata yang paling sederhana dan dapat dimengerti oleh siswa yang sifatnya menuntun kepada jawaban yang diinginkan. Sehingga hasil pembelajaran matematika dapat menjadi lebih baik.

Kata kunci : Kemampuan berpikir kritis, pembelajaran matematika, metode probing prompting



A.    PENDAHULUAN
Seiring berkembangnya peradaban Indonesia, pendidikan harus mampu mengangkat harkat dan martabat manusia Indonesia menjadi lebih maju dan beradab karena pendidikan salah satu penentu mutu sumber daya manusia (SDM). Dewasa ini keunggulan suatu bangsa tidak lagi ditandai dengan melimpahnya kekayaan alam melainkan pada keunggulan sumber daya manusia (SDM). Mutu sumber daya manusia (SDM) berkorelasi positif dengan mutu pendidikan, mutu pendidikan sering diindikasikan dengan kondisi yang baik, memenuhi syarat, dan segala komponen yang harus terdapat dalam pendidikan, komponen – komponen tersebut adalah masukan, proses, keluaran, tenaga pendidikan, sarana dan prasarana serta biaya.
Menurut undang – undang Republik Indonesia no. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang dilansir dalam koran pendidikan oleh M. Arif (4 februari 2014), dijabarkan fungsi bahwa fungsi pendidikan untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu dan martabat manusia indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujuan nasional sedangkan tujuan pendidikan untuk mencerdasakan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan. Kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Menurut Direktur Pendidikan Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) Subandi Sardjoko yang dilansir dalam beritasatu.com oleh Mahesa Bismo (13 Oktober 2013), Indeks tingkat pendidikan tinggi Indonesia dinilai masih rendah yaitu 14,6 persen, berbeda dengan Singapura dan Malaysia yang sudah mempunyai indeks tingkat pendidikan yang lebih baik yaitu 28 persen dan 33 persen. Apabila kualitas pendidikan di Indonesiamasih rendah maka akan melemahkan daya saing Indonesia dalam menghadapi masyarakat ekonomi Asean 2015. Oleh sebab itu, lanjut Subandi, kunci untuk meningkatkan daya saing Indonesia, dengan meningkatkan kualitas pendidikan dan melakukan terobosan terbaru dalam sektor pendidikan.
Menurut hasil Third in International Mathematics Science and Study (TIMSS) 2011 yang dilansir dalam Repubilka.co.id oleh Asep Sapa’at (27 februaru 2014), peringkat anak-anak Indonesia bertengger di posisi tiga puluh delapan dari empat puluh dua negara untuk prestasi matematika, dan menduduki posisi empat puluh dari empat puluh dua negara untuk prestasi sains. Rata-rata skor prestasi matematika dan sains berturut-turut adalah tiga ratus delapan puluh enam dan empat ratus enam, masih berada signifikan di bawah skor rata-rata internasional. Hal ini dikarenakan lemahnya kurikulum matematika di Indonesia. Karakteristik soal-soal yang diujikan di TIMSS cenderung mengujikan aspek penalaran dan pemecahan masalah (Problem Solving). Kurikulum matematika di Indonesia sendiri terlalu banyak menekankan pada penguasaan keterampilan dasar menghitung (basic skills) yang bersifat procedural, dan kurangnya dukungan sekolah dan rumah.
Pembelajaran adalah segala upaya yang dilaukan oleh guru (pendidik) agar terjadi proses belajar pada diri siswa. Secara implisit, didalam pembelajaran, ada kegiatan memilih, menetapkan, dan mengembangkan metode untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan (Sutikno, 2008:33).
Proses belajar pembelajaran (pembelajaran) adalah upaya secara sistematis yang dilakukan guru untuk mewujudkan proses pembelajaran berjalan secara efektif dan efisien yang dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi (Aqib, 2013: 66). Dalam pembelajaran matematika diharapkan siswa benar – benar kreatif. Sehingga akan berdampak pada ingatan siswa yang akan lebih lama bertahan tentang apa yang akan dipelajari. Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia.
Dalam belajar matematika siswa harus berpikir, karena itu peserta didik harus difasilitasi agar mau berpikir. Menurut Jozua Sabandar ada beberapa hal yang dipandang perlu dikuasai dan dilakukan oleh guru agar proses berpikir siswa dapat berlangsung, yaitu guru harus menggunakan teknik Prompting, teknik Probing, teknik scafolding, dan teknik cognitive conflict(Megarati, 2010:75).
Belajar bukan hanya mengingat sejumlah fakta, akan tetapi belajar adalah proses berpikir (learning how to think), yakni proses mengembangkan potensi seluruh otak, baik otak kiri maupun otak kanan; baik otak reptil, otak limbik, maupun otak neokortek (Sanjaya, 2010:200-201). Untuk mempelajari matematika siswa perlu kemampuan berpikir dengan secara logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif.
Pembelajaran berpikir adalah pemanfaatan dan penggunaan otak secara maksimal. Belajar yang hanya cenderung memanfaatkan otak kiri, misalnya dengan memaksa siswa untuk berpikir logis dan rasional, akan membuat siswa dalam posisi “kering dan hampa”. Oleh karena itu, belajar berpikir logis dan rasional perlu didukung oleh pergerakan otak kanan, misalnya dengan memasukan unsur – unsur yang dapat mempengaruhi emosi, yaitu unsur estetika melalui proses belajar yang menyenangkan dan menggairahkan (Sanjaya, 2010:201).
Kemampuan berpikir memerlukan kemampuan mengingat dan memahami, oleh sebab itu kemampuan mengingat adalah bagian terpenting dalam mengembangkan kemampuan berpikir. Artinya, belum tentu siswa yang memiliki kemampuan mengingat dan memahami memiliki kemampuan juga dalam berpikir. Sebaliknya, kemampuan berpikir siswa sudah pasti diikuti oleh kemampuan mengingat dan memahami. Hal ini seperti yang dikemukakan Peter Reason, bahwa berpikir tidak mungkin terjadi tanpa adanya memori (Sanjaya, 2010:231).
Dengan demikian metode konvensional dianggap kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk memberikan partisipasi dalam pembelajaran matematika. Seperti yang dikemukakan Program Director MMExecutive BINUS Business School, Tubagus Hanafi Soeriaatmadja yang dilansir (kompas.com) menyatakan bahwa ketika dalam pembelajaran menggunakan metode konvensional yaitu metode ceramah siswa harus mencatat. Apabila siswa lupa atau tidak mencatat, maka materi yang diberikan “masuk telinga kanan, keluar telinga kiri”.
Menurut Dewey dalam Fisher (2009:2) mendefinisikan berpikir kritis sebagai sebuah proses ‘aktif’, Dewey ingin mengkontraskannya dengan cara berpikir di mana siswa menerima begitu saja gagasan – gagasan dan informasi dari orang lain dan ini disebut sebagai sebuah proses ‘pasif’. Jika dilihat dari pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa siswa MTs As Sunnah Kota Cirebon masih belum menjadi pemikir kritis karena siswa MTs As Sunnah Kota Cirebon hanya bisa menerima dan mendengarkan apa yang di sampaikan guru tanpa adanya pertimbangan. Oleh karena itu, peneliti menganggap bahwa perlu adanya suatu metode pembelajaran yang bisa meningkatkan rasa ingin tahu dan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran matematika. Maka peneliti tertarik untuk menggunakan metode probing prompting dalam pembelajaran di kelas VII MTs As Sunnah Cirebon.
Melalui metode probing prompting (menggali dan menuntun) guru dan siswa dapat menciptakan susana pembelajaran yang lebih efektif dan aktif karena siswa lebih banyak diikut sertakan dalam pembelajaran. Sehingga siswa lebih berani dalam mengungkapkan pertanyaan – pertanyaan yang ingin di tanyakan serta proses berpikir siswa dapat berkembang dengan baik.

B.     PENGERTIAN BERPIKIR KRITIS
Menurut Ennis dalam Fisher (2009:4), berpikir kritis adalah pemikiran yang masuk akal dan reflektif yang berfokus untuk memutuskan apa yang mesti dipercaya atau dilibatkan. Sedangkan Paul mengemukakan berpikir kritis adalah mode berpikir mengenai hal, seubstansi atau masalah apa saja di mana si pemikir meningkatkan kualitas pemikirannya dengan menangani secara terampil struktur – struktur yang melekat dalam pemikiran dan menerapkan standar – standar intelektual padanya.
Definisi berpikir kritis menurut Dewey yang dinamakannya sebagai berpikir reflektif dan mendefinisikannya sebagai pertimbangan yang aktif, persistent (terus menerus), dan teliti mengenai sebuah keyakinan atau bentuk pengetahuan yang diterima begitu saja dipandang dari sudut alasan – alasan yang mendukungnya dan kesimpulan – kesimpulan lanjutan yang menjadi kecenderungannya(Fisher 2009:2).
Fisher dalam Ismaimuza mengemukakan bahwa berpikir kritis adalah menjelaskan apa yang dipikirkan. Belajar untuk berpikir kritis berarti: belajar bagaimana bertanya, kapan bertanya, apa pertanyaannya, bagaimana nalarnya, kapan menggunakan penalaran, dan metode penalaran apa yang dipakai.Seorang siswa dapat dikatakan berpikir kritis bila siswa tersebut mampu menguji pengalamannya, mengevaluasi pengetahuan, ide-ide, dan mempertimbangkan argumen sebelum mendapatkan justifikasi. Agar siswa menjadi pemikir kritis maka harus dikembangkan sikap-sikap keinginan untuk bernalar, ditantang, dan mencari kebenaran (Ismaimuza, 2011:13).
Sedangkan menurut Munandar dalam Murtadho (2013:534), berpikir kritis merupakan keterampilan berpikir tingkat tinggi mulai dari tingkat analisis, sinteis, dan evaluasi. Contoh kata kerja operasional yang dapat dipakai untuk ranah kognitif pada tingkat analisis adalah menganalisis, memecahkan, menegaskan, menyeleksi, menelaah, menyelidiki, mengaitkan, dan lain – lain. Kata kerja pada ranah kognitif tingkat sintesis adalah menghubungkan, mengkategorikan, menyusun, membentuk, dan lain – lain. Kata kerta pada ranah kognitif tingkat evaluasi (penilaian) adalah membandingkan, menyimpulkan, memprediksi, dan lain – lain.
Krulik dan Rudnick dalam Somakim (2011:43) mengemukakan bahwa yang termasuk berpikir kiritis dalam matematika adalah berpikir yang menguji, mempertanyakan, menghubungkan, mengevaluasi semua aspek yang ada dalam suatu situasi ataupun suatu masalah. Berpikir kritis tersebut bisa muncul apabila dalam pembelajaran adanya masalah yang menjadi memicu dan diikuti dengan pertanyaan.
Menurut Paul yang dikutip oleh Kasdin dan Febiana dalam Liberna (2011:192) berpikir kritis adalah proses disiplin secara intelektual dimana siswa secara aktif dan terampil memahami, mengaplikasikan, menganalisis, mensintesiskan, dan mengevaluasi berbagai informasi yang dikumpulkan atau yang diambil dari pengalaman,pengamatan, refleksi yang dilakukannya, penalaran atau komunikasi yang dilakukannya.
Berpikir kritis merupakan suatu sikap dan proses penalaran yang melibatkan sejumlah keterampilan intelektual. Menurut Paul dalam Wilkison menyatakan bahwa berpikir kritis adalah disiplin, mengarahkan diri, berpikir rasional yang mengesahkan apa yang kita tahu dan membuat jelas dimana kita mengetahui. Ini adalah seni berpikir tentang pemikiran saat manusia sedang berpikir sehingga membuat pemikiran menjadi lebih jelas, tepat, akurat, relevan, konsisten, dan adil (Mulyaningsih, 2011:28).
Dari uaraian di atas, berpikir kritis adalah mencari kebenaran dalam suatu permasalahan yang dihadapi dengan cara memahami, menganalisis, menghubungkan, dan mengevaluasi pengetahuan yang telah dimiliki dan dihubungkan dengan pengetahuan yang baru.

C.     KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA
Kemampuan siswa dalam berpikir kritis dapat dikenali dari tingkah laku yang diperlihatkan siswa selama proses berpikir dalam pembelajaran. Untuk mengetahui kemapuan berpikir kritis siswa itu dapat dihubungkan dengan indikatior – indikator berpikir kritis yang dikemukakan beberapa ahli. berikut merupana konsep dari beberapa ahli terkait dengan kemampuan berpikir kritis.
Menurut Facione dalam Haryani (2011:124) mengemukakan ada enam kemampuan berpikir kritis yaitu:
a)      Interpretasi, yaitu kemampuan untuk memahami, menjelaskan dan memberi makna data atau informasi.
b)      Analisis, yaitu kemapuan untuk mengidentifikasi hubungan dari informasi – informasi yang dipergunakan untuk mengekspresikan pemikiran atau pendapat.
c)      Evaluasi, yaitu kemampuan untuk menguji kebenaran.
d)     Inferensi, yaitu kemapuan untuk mengidentifikasi dan memperoleh unsur – unsur yang diperlukan untuk membuat suatu kesimpulan yang masuk akal.
e)      Eksplanasi, yaitu kemapuan untuk menjelaskan atau menyatakan hasil pemikiran berdasarkan bukti, metodologi, dan konteks.
f)       Regulasi diri, yaitu kemampuan siswa untuk mengatur berpikirnya.
Sedangkan menurut Angelo di kutip oleh Susanto dalam Haryani (2011:124-125) mengungkapkan lima perilaku yang sistematis dalam berpikir kritis. Lima perilaku tersebut adalah sebagai berikut:
a)         Keterampilan menganalisis, yaitu keterampilan menguraikan sebuah struktur ke dalam komponen – komponen agar mengetahui pengorganisasian struktur tersebut.
b)         Keterampilan mensintesis, keterampilan menggabungkan bagian- bagian menjadi susunan yang baru.
c)         Keterampilan mengenal dan memecahkan masalah, yaitu keterampilan aplikatif konsep kepada beberapa pengertian.
d)        Keterampilan menyimpulkan, yaitu kegiatan akal pikiran manusia berdasarkan pengertian/pengetahuan yang dimilikinya untuk mencapai pengertian baru.
e)         Keterampilan mengevaluasi/menilai, yaitu kemapuan menentukan nilai sesuatu berdasarkan kriteria tertentu.
Menurut Gleser dalam Fisher (2009:7), mendaftarkan kemampuan berpikir kritis adalah sebagai berikut:
a)      Mengenal masalah
b)      Menemukan cara – cara yang dapat dipakai untuk menangani masalah – masalah itu
c)      Mengumpulkan dan menyusun informasi yang diperlukan
d)     Mengenal asumsi – asumsi dan nilai – nilai yang tidak dinyatakan
e)      Memahami dan menggunakan bahasa yang tepat, jelas, dan khas
f)       Menganalisi data
g)      Menilai fakta dan mengevaluasi pernyataan – pernyataan
h)      Mengenal adanya hubungan yang logis antara masalah – masalah
i)        Menarik kesimpulan – kesimpulan dan kesamaan – kesamaan yang diperlukan
j)        Menguji kesamaan – kesamaan dan kesimpulan – kesimpulan yang siswa ambil
k)      Menyusun kembali pola – pola keyakinan siswa berdasarkan pengalaman yang lebih luas
l)        Membuat penilaian yang tepat tentang hal – hal dan kualitas – kualitas tertentu dalam kehidupan sehari – hari.
Untuk melihat atau mengukur kemampuan berpikir kritis dibutuhkan indikator – indikator yang sebenarnya tidak mudah untuk dirumuskan. Berdasarkan pendapat – pendapat di atas maka indikator berpikir kritis dalam penelitian ini adalah:
a)      Menganalisis adalah kemapuan untuk mengidentifikasi hubungan dari informasi – informasi yang dipergunakan untuk mengekspresikan pemikiran atau pendapat.
b)      Inferensi adalah kemapuan untuk mengidentifikasi dan memperoleh unsur – unsur yang diperlukan untuk membuat suatu kesimpulan yang masuk akal.
c)      Memecahkan masalah adalah keterampilan aplikatif konsep kepada beberapa pengertian.
d)     Mengevaluasi adalah kemapuan menentukan nilai sesuatu berdasarkan kriteria tertentu.
Berdasarkan konsep di atas, kemampuan berpikir kritis siswa manjadikan siswa mampu mengidentifikasi hubungan dari informasi untuk dijadikan sebuah kesimpulan yang masuk akal sehingga dapat digunakan untuk memecahkan masalah serta menentukan nilai dari sebuah masalah tersebut.

D.    TEKNIK PENGUKURAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS
Kemampuan berpikir kritis siswa dapat diketahui dengan pengkuran. Beberapa metode pengukuran yang dapat digunakan untuk mengukur keterampilan berpikir kritis antara lain dengan pilihan ganda atau dengan tes esai. Selain dengan pengukuran di atas, kebiasaan berpikir kritis siswa dapat diukur dengan skala likert (Mulyaningsih, 2011:41-42).
Terdapat beberapa model pengukuran yang dapat digunakan oleh pendidik untuk mengukur pencapain kemampuan berfikir siswa. model pengukuran terhadapa kemampuan berfikir kritis sebagai berikut.
a)      California critical thinking disposition inventory
California critical thinking disposition inventory dapat digunakan untuk mengukur sejauh mana siswa memiliki sikap sebagai seorang pemikir kritis. Dengan alat ukur ini maka dapat membuka pikiran, kepercayaan diri, maturitas, menganalisis, sistematis, penyelidikan, pencarian kebenaran.
b)      Critical thinking disposition assessment instrument (UF-EMI)
UF-EMI mengukur tiga hal yaitu engagement (keterlibatan), cognitive maturity (kematangan kognitif), dan innovativeness (inovatif). Engagement (keterlibatan) unutk mengukur rasa percaya diri siswa terhadap pemikirannya dan kemampuan komunikasi. Siswa dengan engagement (keterlibatan) yang tinggi akan mampu mengantisipasi situasi dengan menggunakan rasional yang baik. Orang yang mempunyai engagement (keterlibatan) yang tinggi juga akan mencari kesempatan untuk menggunakan keterampilan penalaran dan kemampuannya untuk memberikan alasan, memecahkan masalah, dan membuat keputusan. Orang tersebut juga dapat menjadi komunikator yang baik dan mampu menjelaskan proses penalaran yang digunakan untuk membuat keputusan atau menyelesaikan masalah.
Coginitive maturity (kematangan kognitif) diukur untuk mengetahui sejauh mana kesadarn diri dan obyektifitas siswa. Seorang individu dengan tingkat Coginitive maturity (kematangan kognitif) yang tinggi akan menyadari kecenderungan sendiri dan bias dalam proses pengambilan keputusan. Orang tersebut akan menyadari pendapat dan posisinya akan dipengaruhi oleh orang lain, lingkungan, dan pengalaman. Dia juga menyadari bahwa orang lain mungkin setujut atau tidak setuju dengan pendapat dan posisinya. Ia terbuka dengan pendapat orang lain dan membutuhkan masukan untuk menyatukan perbedaan pandangan dan akan obyektif ketika membuat keputusan atau menyelesaikan masalah.
Innovativeness (inovasi) diukur untuk mengetahui keingintahuan siswa terhadap sesuatu yang baru. Siswa yang memiliki Innovativeness (inovasi) yang tinggi digambarkan sebagai orang yang selalu lapar. Orang dengan inovasi tinggi akan selalu mencari pengetahuan baru. Individu yang memiliki tingkat inovasi yang tinggi akan tahu apa yang harus dipelajari lebih banyak tentang profesi mereka, situasi mereka, hidup mereka, dan dunia mereka. Siswa dengan inovasi tinggi akan merasa penasaran dengan tantanganbaru dan aktif berusaha untuk tahu lebih banyak melalui penelitian, membaca, dan mempertanyakan(Mulyaningsih, 2011:42-43).
Kedua model pegukuran tersebut dapat menjadi rujukan bagi pendidik dalam melakukan evaluasi terhadap hasil belajar, khususnya terkait dengan kemampuan siswa dalam berpikir kritis.  

E.     METODE PEMBELAJARAN PROBING PROMPTING
Metode secara harfiah berarti “cara”. Dalam pemakaian yang umum, metode diartikan sebagai suatu cara atau prosedur yang dipakai untuk mencapai tujuan tertentu (Sutikno, 2008:83-84).
Oleh karena itu, metode pembelajaran dapat berarti alat yang merupakan perangkat atau bagian dari suatu strategi pengajaran. Strategi pengajaran juga merupakan suatu pendekatan yang digunakan untuk mencapai tujuan. Jadi, cakupan strategi lebih luas dibandingkan metode atau teknik dalam pengajaran (Kamsinah, 2008:103).
Sedangkan probing prompting merupakan salah satu teknik bertanya yang dapat diterapkan dalam pembelajaran di kelas. Probing prompting terdiri dari dua kata yaitu probing dan prompting.
Menurut arti kata, probing adalah menyelidiki dan pemeriksaan, sementara prompting adalah mendorong atau menuntun. Pembelajaran probing prompting adalah pembelajaran dengan menyajikan serangkaian pertanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali gagasan siswa sehingga dapat melejitkan proses berpikir yang mampu mengaitkan pengetahuan dan pengalaman siswa dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari. Selanjutnya, siswa mengkonstruksi konsep, prinsip, dan aturan menjadi pengetahuan baru, dan dengan demikian pengetahuan baru tidak diberitahukan (Miftahul Huda, 2013:281).
Probing question atau pertanyaan menggali adalah pertanyaan lanjutan yang akan mendorong siswa untuk lebih mendalami jawaban terhadap pertanyaan sebelumnya.Prompting question atau pertanyaan mengarahkan atau menuntun adalah pertanyaan yang diajukan untuk memberi arah kepada siswa dalam proses berpikir (Hasibuan, 2010:15).
Menurut M. Fahris dan Puput (2014:90) menyatakan bahwa, probing adalah menggali atau melacak, dan prompting adalah mengarahkan atau menuntun. Secara umum pembelajaran dengan menggunakan probing promptingadalah pembelajaran dengan cara guru menyajikan serangkaian pertanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan pengetahuan baru yang sedang dipelajari.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa metode probing promptingadalah salah satu cara untuk meningkatkan berpikir kritis siswa dengan menggunakan pertanyaan – pertanyaan yang dapat mengarahkan dan menggali pengetahuan siswa sehingga mampu mengaitkan pengetahuan yang sudah didapat dengan pengetahuan yang akan dipelajari. Maka tugas seorang guru dalam metode ini adalah memberikan pertanyaan yang dapat merangsang dan menuntun siswa agar menjadi aktif bertanya dan berpikir kritis dalam menjawab.
Pembelajaran probing prompting sangat erat kaitannya dengan pertanyaan. Pertanyaan – pertanyaan yang dilontarkan pada saat pembelajaran ini disebut probing question. Probing question adalah pertanyaan yang bersifat menggali untuk mendapatkan jawaban lebih dalam dari siswa yang bermaksud untuk mengembangkan kualitas jawaban, sehingga jawaban berikutnya lebih jelas, akurat, dan beralasan.
Probing question dapat memotivasi siswa untuk mampu mencapai jawaban yang dituju. Selama proses pencarian dan penemuan jawaban atas masalah tersebut, mereka berusaha menghubungkan pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki dengan pertanyaan yang akan dijawab (Miftahul Huda, 2013:281).
Menurut Megarati (2010:89), dari hasil observasi yang dilakukan pada saat proses pembelajaran menggunakan teknik probing prompting mengungkapkan bahwa ketika siswa melakukan diskusi kelompok terlihat siswa sudah aktif dan pada waktu mempresentasikan hasil kelompoknya siswa sudah berani dan terlihat antusias untuk menjawabny.
Proses tanya jawab dalam pembelajaran dilakukan dengan menunjuk siswa secara acak sehingga setiap siswa mau tidak mau harus berpartisipasi aktif. Siswa tidak bisa menghindar dari proses pembelajaran, karena setiap saat ia bisa dilibatkan dalam proses tanya jawab.
Berdasarkan penelitian Priatna (Sudarti, 2008), proses probing dapat mengaktifkan siswa dalam belajar yang penuh tantangan, sebab ia menuntun konsentrasi dan keaktifan. Selanjutnya, perhatian siswa terhadap pembelajaran yang sedang dipelajari cenderung lebih terjaga karena siswa selalu mempersiapkan jawaban sebab mereka harus selalu siap jika tiba – tiba ditunjuk oleh guru (Megarati, 2010:282).

F.     LANGKAH - LANGKAH METODE PROBING PROMPTING
Kemampuan berpikir kritis siswa dapat dilakukan melalui penerapan pembelajaran probing prompting. berikut ini merupakan Langkah-langkah pembelajaran probing prompting dijabarkan melalui tujuh tahapan teknik pobing yang kemudian dikembangkan dengan prompting adalah sebagai berikut (Huda, 2013:282-283):
a)      Guru menghadapkan siswa pada situasi baru, misalkan dengan membeberkan gambar, rumus,atau situasi lainnya yang mengandung permasalahan.
b)      Menunggu beberapa saat untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk merumuskan permasalahan.
c)      Guru mengajukan persoalan yang sesuaidengan tujuan pembelajaran khusus (TPK) atau indikator kepada seluruh siswa.
d)     Menunggu beberapa saat untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk merumuskan jawaban atau melakukan diskusi kecil.
e)      Menunjuk salah satu siswa untuk menjawab pertanyaan.
f)       Jika jawabannya tepat, maka guru meminta tanggapan kepada siswa lain tentang jawaban tersebut untuk meyakinkan bahwa seluruh siswa terlibat dalam kegiatan yang sedang berlangsung. Namun, jika siswa tersebut mengalami kemacetan jawaban atau jawaban yang diberikan kurang tepat, tidak tepat, atau diam, maka guru mengajukan pertanyaan – pertanyaan lain yang jawabannya merupakan petunjuk jalan penyelesaian jawaban. Kemudian, guru memberikan pertanyaan yang menuntun siswa berpikir pada tingkat yang lebih tinggi, sehingga siswa dapat menjawab pertanyaan sesuai dengan kompetensi dasar atau indikator. Pertanyaan yang diajukan pada langkah keenam ini sebaiknya diberikan pada beberapa siswa yang berbeda agar seluruh siswa terlibat dalam seluruh kegiatan probing prompting.
g)      Guru mengajukan pertanyaan akhir pada siswa yang berbeda untuk lebih menekankan bahwa TPK/indikator tersebut benar – benar telah dipahami oleh seluruh siswa.

G.    KELEBIHAN DAN KELEMAHAN METODE PROBING PROMPTING
Metode probing promting memiliki kelebihan dan kelemahan dalam penerapanya di pembelajaran. pendidik harus dapat mengetahu kelebihan apa yang didapat jika melakukan pembelajaran probing promting. selain itu, pendidik jiga harus dapat mengatasi kemumngkinan buruk yang terjadi dari penerapan metode probing promting. Adapun kedua hal tersebut adalah sebagai berikut.
a)      Kelebihan metode probing prompting(Nurjanah, 2013:22-23):
1)      Mendorong siswa aktif berpikir
2)      Memberi kesempatan kepada siswa untuk menanyakan hal – hal yang kurang jelas sehingga guru dapat menjelaskan kembali.
3)      Perbedaan pendapat antara siswa dapat dikompromikan atau diarahkan pada suatu diskusi.
4)      Pertanyaan dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa, sekalipun ketika itu siswa sedang ribut, yang mengantuk, kembali tegar dan hilang kantuknya.
5)      Sebagai cara meninjau kembali (review) bahan pelajaran yang lampau.
6)      Mengembangkan keberanian dan keterampilan siswa dalam menjawab dan mengemukakan pendapat.
b)      Kelemahan metode probing prompting(Nurjanah, 2013:22-23):
1)      Siswa merasa takut, apalagi bila guru kurang dapat mendorong siswa untuk berani, dengan menciptakan suasana yang tidak tegang, melainkan akrab.
2)      Tidak mudah membuat pertanyaan yang sesuai dengan tingkatan berpikir dan mudah dipahami siswa.
3)      Waktu sering banyak terbuang apabila siswa tidak dapat menjawab pertanyaan sampai dua atau tiga orang.
4)      Dalam jumlah siswa yang banyak, tidak mungkin cukup waktu untuk memberikan pertanyaan kepada tiap siswa.
5)      Dapat menghambat cara berpikir anak bila tidak/kurang pandai membawakan, misalnya guru meminta siswanya menjawab persi seperti yang dia kehendaki, kalau tidak dinilai salah.

H.    CONTOH PENERAPAN METODE PROBING PROMPTING DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Berikut merupakan contoh penerapan metode probing prompting dalam pembelajaran matematika pada pokok bahasan garis dan sudut.   
1.      Standar Kompetensi
Menelaah hubungan garis dengan garis, garis dengan sudut, sudut dengan sudut, serta menentukan ukurannya.
2.      Kompetensi Dasar
Mengaitkan hubungan antara dua garis, serta besar, dan jenis sudut.
3.      Indikator
1.      Menyelidiki kedudukan dua garis (sejajar, berimpit, dan berpotongan).
2.      Menghubungkan pengetahuan dasar untuk menyelesaikan soal keududkan dua garis.
4.      Tujuan Pembelajaran
1.      Peserta didik dapat menentukankedudukan dua garis (sejajar, berimpit, dan berpotongan).
2.      Peserta didika dapat menyelesaikan soal kedudukan dua garis.
Karakteristik siswa yang diharapkan :
-          Berani
-          Bertanggung jawab
-          Aktif
5.      Materi Pembelajaran
Pengertian garis
Garis merupakan bangun paling sederhana dalam geometri, karena garis adalah bangun dimensi satu. Perhatikan garis AB di bawah ini, di antara titik A dan titik B dapat dibuat satu garis lurus AB. Di antara dua titik pasti dapat ditarik satu garis lurus.
A                                                   B
a.       Kedudukan dua garis
a)      Dua garis sejajar
Dua garis atau lebih dikakatan sejajar apabila garis – garis tersebut terletak pada suatu bidang datar dan tidak akan pernah bertemu atau berpotongan jika garis tersebut diperpanjang sampai tak berhingga.
b)      Dua garis berpotongan
Dua garis dikatakan berpotongan apabila garis tersebut terletak pada suatu bidang datar dan mempunyai satu titik potong.
c)      Dua garis berimpit
Dua garis dikatakan berimpit apabila garis tersebut terletak pada suatu garis lurus, sehingga hanya terlihat sebagai satu garis lurus saja.
b.      Sifat dua garis sejajar
Jika suatu garis memoton salah satu dari dua garis sejajar, maka garis tersebut juga memotong garis yang kedua. Perhatikan ambar di bawah. Diketahui garis k //m. Jika garis l memotong garis m di titik P, maka garis l juga memotong garis n di titik Q.






6.      Pendekatan dan Metode Pembelajaran
1.      Pendekatan     : Deduktif
2.      Metode            : Probing Prompting
7.      Langkah – langkah Pembelajaran
Pendahuluan:
Ãœ  Salam dan berdo’a sebelum belajar
Ãœ  Memeriksa kehadiran siswa
Ãœ  Memberikan motivasi kepada siswa agar siap dalam mengikuti pembelajaran
Ãœ  Apersepsi: Memberikan sebuah masalah berbentuk gambar yang berhubungan dengan materi yang akan dipelajari yaitu garis dan sudut.
Kegiatan Inti:
Ãœ  Eksplorasi
ü  Siswa menggali infromasi tentang masalah yang diberikan oleh guru besrta nilai kebenarannya dengan cara berdiskusi berpasangan dengan teman sebangku.
ü  Guru memberikan beberapa pertanyaan pada beberapa pasangan siswa yang ditunjuk secara acak yang sifatnya menuntun (Probing).
ü  Guru memberikan beberapa pertanyaan pada beberapa pasangan siswa yang ditunjuk secara acak yang sifatnya menggali pengetahuan siswa (Prompting).
ü  Guru menyampaikan materi beserta contoh soalnya yang dikaitkan dengan hasil diskusi dan membimbing siswa tentang pertanyaan beserta nilai kebenrannya.
ü  Guru memberikan kesempatan kepada siswa yang kurang paham pada materi yang disampaikan guru untuk bertanya.
Ãœ  Elaborasi
ü  Guru memberikan latihan soal pada siswa.
ü  Siswa mengerjakan latihan soal tersebut secara berkelompok dan berdiskusi berpasangan dengan teman sebangku.
ü  Guru berkeliling mengecek pekerjaan siswa.
ü  Guru membantu dan membimbing siswa yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan latihan soal.
ü  Guru memberi kesempatan pada siswa untuk menampilkan hasil jawabannya dengan cara menuliskan di papan tulis.
ü  Beberapa siswa menampilkan hasil pekerjaannya dengan cara menuliskannya di papan tulis.
Ãœ  Konfirmasi
ü  Guru mengecek dan menanggapi hasil jawaban siswa yang dituliskan di papan tulis.
ü  Guru memberikan penguatan terhadap hasil pekerjan siswa dengan cara memberikan nilai tambahan pada siswa yang berani menampilkan jawabannya di papan tulis.
Kegiatan penutup :
Ãœ  Siswa bersama guru menyimpulkan hasil pembelajaran yang telah dilakukan.
Ãœ  Guru memberikan tugas pada siswa berupa pekerjaan rumah.
Ãœ  Guru menyampikan pokok bahsan yang akan disampikan pada pertemuan berikutnya, yaitu jenis – jenis sudut dan hubungan antar sudut.
Ãœ  Guru menutup pelajaran dengan berdo’a dan mengucapkan salam.

8.      Penilaian
Indikator Pencapaian Kompetensi
Penilaian
Teknik
Bentuk Instrumen
Contoh Instrumen
§  Menentukan Kedudukan dua garis.

Tes tulis



Uraian


Dari gambar di bawah ini tentuka yang meupakan garis berpotong . . .









§  Menyelesaikan soal – soal kedudukan dua garis

Tes tulis
Uraian
Pada gambar di bawah ini panjang garis CA adalah . . .






I.       KESIMPULAN
Setiap siswa dapat belajar untuk berpikir dengan kritis karena otak manusia secara konstan berusaha memahami pengalaman. Dalam pencariannya yang terus – menerus akan makna, otak dengan tangkas menghubungkan ide abstrak dengan konteksnya di dunia nyata. Otak menyenangi jenis hubungan yang harus dilakukan oleh pemikir kritis karena hubungan semacam ini menghargai bukti, meniliti asumsi, dan memeriksa bahasa dengna teliti.
Pendidikan dengan paradima kritis menempatkan peserta didik sebagai subjek. Bagi Freire, fitrah manusia sejati adalah menjadi subjek bukan menjadi objek. Berpikir kritis sebagai pertimbangan yang aktif, persisten (terum menerus), dan teliti mengenai sebuah keyakinan atau bentuk pengetahuan yang tidak ada pertimbangan dalam menerimanya dipandang dari sudut alasan – alasan yang mendukungnya dan kesimpulan – kesimpulan lanjutan yang menjadi kecenderungannya.
Dengan mendefinisikan berpikir kritis sebuah proses ‘aktif’, proses di mana siswa memikirkan berbagai hal secara lebih mendalam, mengajukan berbagai pertanyaan, menemukan informasi yang relevan, dibandingkan dengan menerima berbagai hal dari orang lain sebagian besarnya secara pasif.
Berpikir kritis sebagai proses yang presistent (terus menerus) dan teliti. dikontraskannya dengan cara berpikir kritis yang tidak direfleksikan yang kadang – kadang memutuskan sebuah keputusan dengan tidak teliti. Bahkan untuk memutuskan dengan segera atau isu itu tidak cukup penting untuk dipikirkan secara lebih mendalam, tetapi mengambil keputusan  dengan segara sering dilakukan ketika diharuskan untuk mengambil jeda dan berpikir sehingga harus diam sejenak.
Berpikir kritis didasari dengan alasan – alasan yang mendukung suatu keyakinan dan kesimpulan – kesimpulan lanjutan yang menjadi kecenderungannya. untuk mengungkapkan pemahaman ini dalam bahasa yang lebih familiar, Dewey menandaskan hal – hal yang menjadi alasan untuk meyakini sesuatu dan implikasi dari keyakinan – keyakinan. Bukanlah sesuatu yang disebar – sebarkan jika dikatakan berpikir kritis memberi pengaruh besar terhadap penalaran, untuk mengemukakan alasan – alasan dan untuk mengevaluasi penaralan sebaik mungkin.



DAFTAR PUSTAKA

Aqib, Zainal. 2013. Model – Model,Media, dan Strategi Pembelajaran Kontekstual (Inovatif). Bandung: Yrama Widya
Arif, M. 4 Ferbuari 2014. Pendidikan Berperan Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia. Koran Pendidikan “Bernalar dan Berhati Nurani”
Bismo, Mahesa. 13 Oktober 2013. Kualitas Pendidikan di Indonesia Masih Rendah. Beritasatu.com
Fajar A, M. Fahris. Puput Wanarti R. 2014. Pengaruh Metode Pembelajaran Tanya Jawab Probing Prompting Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Standar Kompetensi Menerapkan Dasar – Dasar Elektronika Kelas X AV Di SMK Negeri 2 Surabaya. Jurnal Pendidikan Teknik Elektronika, Volume 03, Nomor 01, Universitas Negeri Surabaya: tidak diterbitkan
Fisher, Alec. 2009. Berpikir kritis: Sebuah Pengantar. Penerbit: Erlangga    
Hasibuan, J.J. dkk. 2010. Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Huda, Miftahul. 2013. Model – model Pengajaran dan Pembelajaran: Isu – isu Metodis dan Paradigmatis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Ismaimuza, Dasa. 2011. Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Ditinjau Dari Pengetahuan Awal Siswa. Jurnal Pendidikan Matematika. Volume 2 Nomor 1
Kamsinah. 2008. Metode dalam proses pembelajaran: studi tentang ragam dan implementasinya. Lentera Pendidikan Vol. 11 No. 1
Latief, M. 05 Februari 2014. Ingat . . . “Online Learning” Bukan Kelas Kacangan. Berita Pendidikan. Edukasi.Kompas.Com
Lawshe, C.H. 1975. A Quantitative Approach to Content Validity. Indiana: Bowling Green State University
Murtadho, Fathiaty. 2013. Berpikir Kritis Dan Strategi Metakognisi: Alternatif Sarana Pengoptimalan Latihan Menulis Argumentasi. Internasional Seminar On Quality And Affordable Education (ISQAE)
Mustakim, Zaenal. 2009. Strategi dan Metode Pembelajaran. Pekalongan: STAIN Press
Sanjaya, Wina. 2010. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana
Sapa’at, Asep. 27 Februari 2014. Kemana Arah Pendidikan Indonesia?.Republika.co.id
Sutikno, M. Sobry. 2008. Belajar dan Pembelajaran “upaya kreatif dalam mewujudkan pembelajaran yang berhasil”. Bandung: Prospect
Suyatno. 2009. Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Surabaya: Masmedia Buana Pustaka
Trianto. 2009. Mendesain model pembelajaran inovatif-progresif: konsep, landasan, dan implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana

No comments:

Post a Comment